Beberapa teman saya, belum dikarunia anak. Kadang mereka bertanya atau mungkin curhat dengan saya. Untuk banyak hal di hidup ini, saya paling gentar memberi nasihat. Sebab kata 'sabar' atau 'ikhlas' yang mungkin baik buat kita katakan, bukan saja tidak tepat buat mereka. Bahkan mungkin menyakitkan. Sebaiknya, saya bercerita saja. Siapa tahu berguna.
Saya menikah di usia 33 tahun, dan istri saya 31 tahun. Wajar jika pernikahan di usia yang nisbi telat seperti kami, sesegera mungkin kami ingin diberi momongan. Tapi sampai hampir satu tahun, belum ada tanda-tanda kehamilan itu.
Bohong kalau saya tidak waswas. Terlebih istri saya. Konon, beban keluarga yang tidak atau belum punya momongan, banyak tertimpa di pihak perempuan. Padahal belum tentu. Apalagi jika ada pertanyaan-pertanyaan dari teman atau sanak famili. Sekalipun mencoba menjawab dengan riang, tetap saja pertanyaan itu menyiksa. Karena pernah mengalami itu, sampai sekarang jika saya berkenalan dengan orang baru yang sudah berkeluarga, jika dia tidak bercerita, saya tidak pernah berani bertanya apakah sudah dikaruniai momongan atau belum. Saya sudah pernah merasakan perihnya pertanyaan itu.
Saya saat itu sadar, seberat apapun beban saya, beban istri saya lebih berat lagi. Selain soal usia, yang ada hubungan secara medis dengan sehat tidaknya kandungan, dia pernah menjalani perawatan sakit kelenjar tiroid, yang salah satu risikonya adalah akan lebih susah punya anak. Hal lain, istri saya tahu persis, saya adalah satu-satunya harapan orangtua untuk mendapatkan cucu.
Jujur saja beban saya juga bertumpuk. Sekalipun sudah berkali-kali saya bilang bahwa soal anak adalah soal takdir dan kepercayaan Tuhan untuk memberi amanah berupa anak, tapi tetap saja saya tahu, istri saya menerima beban yang lebih berat dari saya. Apalagi jika dinihari tiba. Saat istri saya bangun dari tidur dan salat Tahajud, lalu terisak di atas sajadahnya. Saya tahu persis itu karena itu adalah jam-jam saya bekerja.
Hingga suatu saat, karena sudah tidak tahan lagi, saya keluar dari ruang kerja, masuk ke dalam kamar memeluk istri saya. Saya bersumpah, jika memang kami tidak punya momongan, saya tidak akan meninggalkannya.
Beberapa bulan kemudian, Alhamdulillah, istri kami mengandung. Lalu lahirlah Kali.
Namun persoalan tidak berhenti sampai di sana. Tiga bulan setelah Kali lahir, bobotnya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Ada begitu banyak analisis yang diberikan oleh dokter, dan satu persatu semua itu tidak tepat. Hingga dokternya sendiri bingung. Akhirnya si dokter punya analisis termutakhir yan membuat saya berada di dalam ruang yang sangat gelap. Kali harus dibawa ke Singapura, untuk dianalisis terjadi sesuatu di saraf otaknya. Jika benar itu yang terjadi, maka harus dioperasi. Kemungkinan berhasilnya, juga tidak besar. Saya lupa persentase keberhasilannya.
Analisis itu diberikan di malam hari, sekira jam 7 malam, dan keesokan harinya, saya harus ke Jakarta untuk bekerja. Sepanjang perjalanan di pesawat, saya tidak bisa menahan tangis. Semua berputar begitu padat dan berat. Mulai dari persentase keberhasilan yang nisbi kecil, jenis penyakitnya, sampai soal biaya. Tabungan saya saat itu hampir 30 juta, yang rencananya jika kelak terkumpul agak banyak, untuk uang muka rumah. Taruhlah saya menjual beberapa barang yang saya miliki, paling banyak saya punya uang: 50 juta. Uang segitu, pasti jauh dari cukup untuk Kali berobat dan melakukan operasi di Singapura.
Sejak saat itu, hari-hari saya adalah menangis. Makin menangis karena menyaksikan istri saya yang lebih terbebani lagi. Kami berdua benar-benar tidak tahu apa yang bisa kami lakukan.
Hingga kemudian, salah satu sepupu istri saya memberitahu, ada baiknya darah Kali dicek secara menyeluruh, mengingat istri saya pernah ada masalah tiroid. Akhirnya kami melakukannya, dan membawa hasil lab ke dokter untuk dianalisis. Benar. Kali menyandang sakit tiroid. Saat itu pula, saya meras lega. Memang di satu sisi sedih soal sakit Kali. Di sisi lain lega karena Memang di satu sisi sedih soal sakit Kali. Di sisi lain lega karena ada kemungkinan sakit yang diderita Kali kemungkinan besar diketahui. Dan tidak perlu pergi ke Singapura. Tidak perlu operasi.
Dokter spesialis anak yang mendampingi Kali akhirnya memberikan intervensi. Namun setelah beberap bulan, tetap tidak berhasil. Akhirnya, dokter tersebut menyarankan agar kami konsultasi ke dokter yang memang punya keahlian khusus soal itu. Begitulah kisahnya, kenapa sampai sekarang Kali punya dua dokter: dokter spesialis anak yang memonitor tumbuh kembang Kali, dan dokter yang khusus menangani sakit tiroidnya.
Menangani sakit Kali bukan hal yang sepele. Dokter memberi obat, yang harus dicek dua minggu sekali untuk mengetahui apakah obat tersebut telah pas atau belum. Dua minggu sekali, Kali harus diambil darahnya. Itu semua bukan hanya butuh biaya tapi juga ketelatenan dan mental yang kuat.
Hingga kemudian Kali bisa diambil darahnya sebulan sekali. Kali ini, tiap 6 bulan sekali. Setiap hari, Kali harus minum obat sesuai takaran dari dokter. Untuk membuat 'ringan' beban kami juga Kali, kami membahasakan obat itu dengan 'vitamin'. Dari beberapa literatur yang saya baca, ada kemungkinan Kali akan mengonsumsi obat seumur hidup. Dokternya sendiri juga tidak pernah berjanji bahwa Kali akan bebas obat. Namun usaha pengurangan dosis obat selalu dilakukan. Tapi menurut saya, dia sudah bertindak tepat: apa gunanya bebas dari minum obat jika risikonya besar?
Teman-teman yang budiman, terutama buat Anda yang belum punya momongan. Semoga kisah ini ada faedahnya buat Anda. Saya tidak berani menasihati. Sebab kata 'sabar' dan 'ikhlas' selain tidak memberi solusi, tentu kalian sudah mendengarnya ratusan bahkan ribuan kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar