Senin, 21 April 2014

Catatan #Merah #Biru -- Tentang Kekasih Sejati --

Selamat datang saudara saudara sekalian, kang mas, mbak yu, om tante, siapapun yang sampai di lapak ini lalu membukanya, saya pastikan saya mendo’akan anda :
  1.  Mudah – mudahan Tuhan mengampuni anda karena telah membuang buang waktu anda membuka catatan yang entah ga karuan ini.
  2. Kesia – siaan yang telah anda lakukan karena masih saja membaca sampai poin nomer dua ini.
  3. (ga ada, cukup dua saja ya)


Yang selanjutnya, jika anda masih membaca, saya harap setelah saya mendo’akan anda, saya berharap anda juga mau berkenan mendo’akan saya. Karena :
  1. Mudah – mudahan Tuhan juga mengampuni dosa atas tindakan penulisan note yang ga jelas ini.
  2. Telah membuat anda menyia – nyiakan waktu anda yang berharga sampe pada poin ke dua do’a ini.
  3. (biar adil, udah deh dua aja ya.)


Oke, karena anda masih mebaca, jadi mari kita sama – sama berdo’a semoga Allah mengampuni dosa kita semua dan segera mengembalikan kita pada jalan yang benar.
*. hening cipta Mulai…..
*. Selesai….

Baiklah saya akan beritahu kalau saya punya benda dengan dua warna berbeda yang sangat berharga buat saya. Berwarna biru dan merah. Saya tidak tahu kenapa dua warna ini, hanya saja mungkin secara tidak sengaja warnanya seperti itu.

Benda pertama saya juluki Si Merah. Bentuknya kayak gimana? Yah, bentuknya sih flasdish. :D
Beneran flasdish loh. Flasdish Kingstone 8 GB warna merah. Dan kenapa benda yang satu ini jadi sangat berharga bagi saya. Karena separoh hidup saya hampir saya taro di dalam flasdish itu. Jadi ceritanya kan saya ga punya laptop ataupun computer. Nah sebagai insan akademisi *ceile, saya tentunya mempunyai segudang data baik data kuliah, materi, tugas dan lain sebagainya. Bagi saya itu hal – hal yang cukup berharga untuk diamankan. Selain itu juga data Kerja Praktek, laporan segala macemnya juga ada disitu. Bagaimana ga separoh hidup ada disitu wong semua data – data yang menyangkut hajat masa depan saya semuanya ada disitu. Termasuk juga momen – momen berharga yang terabadikan di foto juga disitu, yasudah. Lengkap sudah. Makanya ini flasdis sering saya bawa kemana – mana. Pokoknya udah kayak kekasih deh.

Dan satu lagi mungkinalasan saya saying banget sama benda yangsatu ini. Mungkin Karen adulu waktu belinya itu pake duit sendiri pas harganya masih selangit. Dan waktu itu flasdish masih jadi barang mewah, maka punya flasdis dengan ukuran 8GB itu sesuatu yang membanggakan (dulu loh ya).

Dan parahnya si Merah ini sering banget ngilang tanpa sebab tanpa berita. Yah, buat kalian yang udah punya pacar atau udah pernah punya pacara (yg jomblo sama single ma’ap ma’ap kate ye), pasti tahu deh rasanya gimana kalau pacar tiba – tiba ngilang ga ada kabarnya. Sehari aja deh. Rasanya kayak udah kehilangan si doi seratus empat puluh empat (1440) menit. Atau sebanding dengan delapan puluh enam ribu empat ratus (86400) detik. Banyak banget kan? Bayangin kalo kalau kata pecinta kan sedetik bagaikan sewindu. Nah loh, sewindu aja udah delapan (8) tahun. Kaliin aja dah tuh 8x366x24x60x60x8x366x24x…dst. Banyak banget kan?
*awas kalo ada yang beneran ngitung.
Ya, kira – kira begitulah kalo saya sedang kehilangan si Merah.

Nah, si Merah kembarannya beda lagi. Kalo yang ini saksi hidup saya. Bentuknya apa, BUKU. Ya buku catatan. Banyak hala baik buruk catatan ngawur, catatan curhat, catatan segala macem ada disitu. Kecuali catetan kuliah dan tugas si hehe. Bukan, bukan karena ga muat, tapi karena dasarnya emang ga pernah nyatet. *aduhBukaKartu

Bedanya, kalo yang satu sering di bawa kalo yg ini lebih sering mendekam di rumah, menunggu saya pulang. Yah semacam isteri begitu. Walaupun saya juga ga tahu kalo orang yang punya isteri itu si isterinya suka setia nungguin suaminya pulang atau enggak. Tapi,anggap saja begitu. Hehe

Buku ini ada kembarannya juga tapi dengan ukuran dan warna yang berbeda. Namanya si Biru Mungil. Buku note kecil ini juga cukup berharga buat saya. Beda dengan Si Merah yang isinya segala macem curhatan, si Biru Mungil ini isinya catetan tugas, kuliah, no HP, sama catatan catatan penting yang mendesak. Lebih kayak pengingat sih, maklum saya orangnya pelupa berat. Ibaratnya dia itu kayak sahabat saya yang selalu ada buat mengingatkan saya.  Dia juga yang menemani saya kerja praktek, dia juga yang nemenin saya di aslab Presmes, dia juga yang nemenin saya di Darul Qur’an, dia juga yang nemenin saya masuk kelas (klo lagi ga bawa file/binder), dia juga yang nemenin saya tidur (*bo’ong).

Tapi sayangnya sekarang si Biru mungil ini juga sekarang sedang menghilang entah kemana. Padahal saya juga sedang butuh dia, sebagaimana saya butuh sahabat yang menemani saya melewati hari – hari saya dan mengingatkan saya tentang berbagai hal – hal kecil yang seriing sekali saya lupakan. Ya, mudah – mudahan dia segera kembali, soalnya sudah saya tulis di badannya buat menghubungi saya bagi yang menemukannya. Soalnya emang yang biru satu ini jarang banget menghilang begini. Ini baru pertama kalinya. Sejak terakhir kali saya liat dia beberapa hari yang lalu.

Nah yang biru satu lagi suka menghilang juga. Tapi lebih tepatnya bukan hilang si, tapi ketuker. Dia adalah si #SandalBiru. Bukan sandal gunung atau selop mewah memang, hanya sebuah sandal jepit warna biru ukuran 91/2. Beneran sandal jepit, tapi saya yakin mas mba setuju kalo kemana – mana pasti make sandal. Mau ke warung, ke masjid/mushola, ketempat temen atau kemana deh pokoknya, yang simpel – simple itu. Kenapa sandal jepit dan bukan sandal selop atau sandal gunung ya, selain Karena buyable buat saya, juga sandal jepit itu percaya atau enggak mempunyai tingkat elastsitas dan mampu selip yang tinggi. Tahan disegala medan dan juga sipel dan nyaman. Kalo udah bicara nyaman mah siapa aja pasti setuju deh, kayak pasangan. Yang penting nayaman, gender no lima *Bukan Saya ya

Dari tragedi sering ketukernya #SandalBiru ini saya belajar sesuatu. Bahwa benda berharga tak harus mewah, bahkan yang sederhana sekalipun bisa ditaksir orang lalu menghilang. Seperti #SandalBiru. Dan dari ketukernya si #SandalBiru ini saya belajar bahwa yang utama adalah kenyamanan dan rasa aman dan tenteram. Dulu #SandalBiru saya agak sedikit mentereng dan baru tapi sering ketuker tuker, tapi setelah #SandalBiru saya jadi agak buluk, kayaknya ga pernah lagi deh ketuker. Dan #SandalBiru yang sekarang lebih nyaman aja dipake, lebih fleksibel dan tentunya menenteramkan. Itu yang terpenting kan.

Merah dan Biru
Sebelumnya kalo ada yang sampai disini negbacanya, saya harus tertunduk terharu meneteskan air mata buat mas mba atau siapapun. Terharu kerena tahu, kok masih ada aja orang orang kayak panjenengan ini yang mau – maunya mbaca sampe baris ini.
*awas aja kalo ada yang komen, “gue g baca sampe sini, weee”

Kalo tadi di awal saya bilang saya ga tahu kenapa warnanya merah sama biru, nah sepanjang proses menulis ini kayaknya saya mulai mikir. Mungkin alesannya Karena kedua itu adalah warna murni, atau kalo dala bahasa seni lukis mah warna primer selain warna kuning, hitam dan putih. Itu menunjukkan sebuah kemurnian.

Selain itu merah kalo secara filosfis bisa disimbolkan sebagai keberanian. Kayak warna Bendera Negara Kita Indonesia raya. Selain itu juga kita mengenal istilah atau slogan “ Tunjukan Merahmu ” yang melambangkan sesuatu yang berharga dan mewah. Kayak buku merah saya dan flasdish kingstone 8 GB warna merah milik saya. “ Kau berharga dengan caramu sendiri.”

Nah kalo biru beda lagi. biru lebih melambangkan ketenangan dan kelembutan sekaligus kedalaman perasaan. Kalo di alam kita bisa lihat pada tenangnya laut yang biru itu serta kedalamannya. Kita tak pernah tahu pasti apa yang tersembunyi dikedalaman laut yang sungguh tenang itu. Selain itu kalo mendang laut yang luas itu seperti sebuah keluasan dan kebebasan tersendiri. Sesuatu yang tak berbatas.

Begitu juga langit kita. Warnanya juga buka kuning atau merah atau coklat tapi warna dasarnya biru. Sama seperti laut, kita juga tak bisa menerka apa yang ada di kejauhan angkasa yang biru itu. Serta ia juga mewakili keluasan dan kebebasan yang tak berbatas. Seperti hati kita. “Semakin banyak kau melepas sesuatu, kamu bakalan semakin tahu betapa luasnya diri (hati) kita.”

Ya paling enggak itu menurut saya si. Maklum matiran mah ngarang – ngarang aja. Dan lagi –lagi sebelum saya menutup catatan yang ga bermutu ini saya harus pastikan bahwa anda yang membaca sampai titik ini benar – benar diampuni dosanya oleh Allah karena telah membuang – buang waktu anda. Tapi karena membahagiakan orang lain juga berpahala. Semoga dengan anda membaca sampai disini dan membuat saya bahagia, pahala cukup setimpal untuk mengimbangi dosa atas kesia – siaan anda.
Baiklah akhirnya saya tutup.
*hening cipta..
*mu…---- halah kelamaan
Yasudah saya tututp, terima kasih semoga sukses
Salam Merah Biru, .... dan kamu…(?)