Pagi ini saya mencoba membuat puisi. Kata penyair sih, kalo
bikin puisi itu ya ndak usah dikonsep. Biarkan saja dia mengalir seperti air.
Berhembus seperti angin. Dan memancar hangat seperti mentari. Karena ekspresi
dan intuisi tak pernah berhenti, jiwa seni abadi seperti juga air di wc. Ya,
seni itu seperti wc. *ngawur
Capcipcus inilah jadinya :
__
Kematian KelahirankuMati saja sudah sana
Kenapa?
Kenapa masih bertanya?
Aku lahir dari kenyataan
Ketiadaan yang membentuk rupa
Kenapa tak kau tuangkan?
Mati saja sudah sana
Pagi kemarin aku menyapa
kau menghilang
kenapa tak mati saja bersamaku?
Bola besar ini terus berputar
Aku lahir seribu kali
Tapi kau masih tak peduli
Sejarah memang tak bicaraIa hanya berpendar dalam jaringan manusia
Menyentuh segala hidup dan pengalaman
Ah, tak kau lihatkah juga aku di dalamnya
Cukup dengan kertas dan pena
Dan aku segera menjelma
Aku sudah muak berada di tengkorak mu
Kenapa tak jua kau keluarkan aku
Mati saja sudah sana
Bersama ilalang bergoyang disapa angin siang
Aku tak peduli denganmu
Aku lahir seribu kali, pun kau juga tak peduli
__
Siapa aku disini? *yang ini udah bukan bait lagi woey
Jadi kalo dipikir pikir ...pikir
lagi...pikiiiiiiiirrrrrrr.....lagiiiii, agak lucu juga. Kenapa lucu? Ya, kamu
ini kok ya lucu to, wong kalo lucu itu ya lucu, ndak usah ditanya kenapa –nya.
Lucu kok butuh alasan. *asemm
Jadi puisi ini di bikin karna saya lagi ngidam banget ikut
di pelatihan Rumah Dunia Kreatif (*tak critakno mengko ya). Nah salah satu
syaratnya ya bikin puisi ini. Selain juga ada suruh bikin cerpen sama berita.
Secara gak sadar saya jadi berpikir dengan sangat logis, yah kalo saja nulis
puisi aja susahnya begitu palagi bikin cerpen yang panjangnya itu panjang lah
pokoknya. Nah pertanyaannya adalah,
1.
Panjangan mana antara cerpen, lirik lagu
sepanjang jalan kenangan, episode tersanjung atau cinta fitri?
2.
Akankah serial Raden Kian Santang menjadi tern
baru drama korosal terpanjang?
*AhLupakan
Yang jelas, setelah ini saya masih harus berusaha keras menentukan
topik yang pas untuk cerpen saya. Judulnya apa? Ya belum tahu, wong saya juga
belum sarapan. Wes ndak usah ditanya apa hubungannya judul sama belum sarapan,
namanya juga belum sarapan ya mesti gak nyambung ngunu.
Yang jelas bikin puisi ini menyadarkan saya. Bahwa kerumitan
bahkan bisa hadir hal yang paling sederhana. Tapi puisi menuntut kita merangkum
keluasan dunia dalam satu kata atau hanya beberapa kata saja. Seperti wc yang
menampung derita mules karena makanan yang kita makan kemarin sore. Dan, ya
walaupun pagi ini belum terisi lagi.*MulaiNgaco
Intinya, doakan saya untuk dunia yang baru ini. Semoga
mendapat teman baru, pandangan baru, dan the missing me.
Oh iya, aku disitu itu bukan "aku" bermakna "seseorang". Cuma ide yang muncul di otak terus ga keluar - keluar hehe. *barangKaliAdaYangTanya
Oh iya, aku disitu itu bukan "aku" bermakna "seseorang". Cuma ide yang muncul di otak terus ga keluar - keluar hehe. *barangKaliAdaYangTanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar