Jumat, 03 Januari 2014

Mempuisikan Puisi

Pagi ini saya mencoba membuat puisi. Kata penyair sih, kalo bikin puisi itu ya ndak usah dikonsep. Biarkan saja dia mengalir seperti air. Berhembus seperti angin. Dan memancar hangat seperti mentari. Karena ekspresi dan intuisi tak pernah berhenti, jiwa seni abadi seperti juga air di wc. Ya, seni itu seperti wc. *ngawur
Capcipcus inilah jadinya :
__
Kematian Kelahiranku 

Mati saja sudah sana
Kenapa?
Kenapa masih bertanya?
Aku lahir dari kenyataan
Ketiadaan yang membentuk rupa
Kenapa tak kau tuangkan?

Mati saja sudah sana 
Pagi kemarin aku menyapa
kau menghilang
kenapa tak mati saja bersamaku?
Bola besar ini terus berputar
Aku lahir seribu kali
Tapi kau masih tak peduli 

Sejarah memang tak bicaraIa hanya berpendar dalam jaringan manusia
Menyentuh segala hidup dan pengalaman
Ah, tak kau lihatkah juga aku di dalamnya
Cukup dengan kertas dan pena
Dan aku segera menjelma 

Aku sudah muak berada di tengkorak mu
Kenapa tak jua kau keluarkan aku
Mati saja sudah sana
Bersama ilalang bergoyang disapa angin siang
Aku tak peduli denganmu
Aku lahir seribu kali, pun kau juga tak peduli

__
Siapa aku disini? *yang ini udah bukan bait lagi woey

Jadi kalo dipikir pikir ...pikir lagi...pikiiiiiiiirrrrrrr.....lagiiiii, agak lucu juga. Kenapa lucu? Ya, kamu ini kok ya lucu to, wong kalo lucu itu ya lucu, ndak usah ditanya kenapa –nya. Lucu kok butuh alasan. *asemm

Jadi puisi ini di bikin karna saya lagi ngidam banget ikut di pelatihan Rumah Dunia Kreatif (*tak critakno mengko ya). Nah salah satu syaratnya ya bikin puisi ini. Selain juga ada suruh bikin cerpen sama berita. Secara gak sadar saya jadi berpikir dengan sangat logis, yah kalo saja nulis puisi aja susahnya begitu palagi bikin cerpen yang panjangnya itu panjang lah pokoknya. Nah pertanyaannya adalah,

1.       Panjangan mana antara cerpen, lirik lagu sepanjang jalan kenangan, episode tersanjung atau cinta fitri?
2.       Akankah serial Raden Kian Santang menjadi tern baru drama korosal terpanjang?
*AhLupakan

Yang jelas, setelah ini saya masih harus berusaha keras menentukan topik yang pas untuk cerpen saya. Judulnya apa? Ya belum tahu, wong saya juga belum sarapan. Wes ndak usah ditanya apa hubungannya judul sama belum sarapan, namanya juga belum sarapan ya mesti gak nyambung ngunu.

Yang jelas bikin puisi ini menyadarkan saya. Bahwa kerumitan bahkan bisa hadir hal yang paling sederhana. Tapi puisi menuntut kita merangkum keluasan dunia dalam satu kata atau hanya beberapa kata saja. Seperti wc yang menampung derita mules karena makanan yang kita makan kemarin sore. Dan, ya walaupun pagi ini belum terisi lagi.*MulaiNgaco


Intinya, doakan saya untuk dunia yang baru ini. Semoga mendapat teman baru, pandangan baru, dan the missing me.

Oh iya, aku disitu itu bukan "aku" bermakna "seseorang". Cuma ide yang muncul di otak terus ga keluar - keluar hehe. *barangKaliAdaYangTanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar