Rabu, 01 Januari 2014

Hati dan Logika - Pilihan Yang Sulit -

Tanggal 1 Janusri 2014, tahun barumu ngopo, Rek?

Di beranda FB saya pagi tadi, yang saya buka tepat setelah bangun tidur -- ketahuan banget taun barunya ngapain --, tapi emang sebenarnya juga itu laptop udah nyala dari jam 2 sih, hampir banyak yang pasang status selmat tahun baru. Yang dengan nada keikhlasan, riang gembir, haru biru. Ada yang berarap banyak do’a di Tahun ini (2014) ada juga yang review kegiatan egiatan tahun 2013 kemaren. Tapi ada satu status yang bilang, tahun barunya kini ga semangat seperti orang – orang lain, ini nih...

Nah loh, kanapa nih ? Karena rasa penasaran saya yang tinggi akhirnya saya tanya – tanya via sms. Dan jawaban pertamanya seperti biasa,

Masih ada masalah kok, mi. Sedih banget, tapi yasudahlah. Tunggu waktu buat nyelesainnya.”

Bukan Imam Chartego kalo menyerah begitu saja. Jadilah saya mencing – mancing biar di cerita. Dan klu kedua pun terlontar.

Ga kog, masalahkusendiri. Bingung juga gimana mau selesaiin

Nah kalo udah gini dan dia ga mau cerita, sih saya ga bisa apa – apa lagi. Awalnya memang saya kira ini bukan masalah dia sendiri. Ya dengan segala hormat akhirnya merelakan untuk tidak tahu cerita aslinya. Tapi (lagi) bukan berarti yasudahlah. Saya akhirnya mengasumsikan masalahnya pada sesuatu hal. Nah karena dia bilang susah memeilih antara hati dan logika saya arahkan saja kesitu (asmara), walaupun saya juga berharap bukan itu haha. Memang agak susah menganalisa sesuatu tanpa tahu hal yang sebenarnya. Apalagi sama teman saya yang satu ini, sering banget saya salah menebak. Ya walaupun begitu Akhirnya ya aku lempar pernyataan lagi

.....Berarti mungkin kuncinya adalah ‘ apa yang paling kamu pengen in, va’

Hmmm, ketika yang aku inginkan tak lagi penting. “ katanya.

Banyak dari kita sebenarnya sudah memilih cara berpikir sejak lama. Misalnya, teman saya yang satu ini. kalau menurut pandangan saya, dia sudah lama berpikir dengan mengutamakan logikanya ketimbang mengikuti perasaan atau kata hatinya. Hanya saja sebagian lain nerima gitu aja dan gak pernah lagi risau, sedang yang lain menerima tapi masih saja merisaukan keinginan di hati kecilnya. Apalagi kalau ternyata memang apa yang kita pengenin bener-bener secara logis ga nyampe, atau secara logis mungkin saja yang satunya tapi ga sesuai sama hati. Apa yang ingin saya bilang intinya adalah ketika hati dan logika kita ga sinkron.

Kalau kita sedang bicara dengan trainer maka yang akan beliua (trainer) ini katakan mungkin , “ Anda harus mengutamakan apa yang benar – benar anda inginkan. Maka dunia akan mendukung anda.” Ya itu itulah kenapa banyak akhirnya yang mati – matian membela apa yang mereka inginkan walaupun -- lagi – lagi mengutip kata – kata dari teman saya – memang segala yang di bela – belain pasti lebay alias berlebihan.

Ini bukan berarti apa yang muncul dari hati atau perasaan selalu harus dituruti. Tapi karena teman saya ini kebetulan sedang bicara dengan saya maka saya juga bicara bahwa tidak semua yang muncul dari perasaan dapat di dahulukan. Pertimbangan logis kadang lebih sesuai untuk diikuti bahkan dalam masalah asmara sekalipun.

Dulu sewaktu SMA saya benar – benar memandang bahwa orang – orang yang berjuang dengan cintanya itu adalah orang – orang yang paling ga masuk akal buat saya. Begaimana tidak, mereka (yang biasanya cewek) mati – matian mencintai orang terkasihhnya walupun sering ditinggal, walaupun sudah disakiti berkali kali, walaupun lingkungannya menentang. Kalau kata mereka mah “ udah terlanjur sayang.” Nah loh, jadi ga masuk akal sungguh. Ya walaupun memang sebagian lainnya lagi berpikir, ngapain juga memepertahankan cinta yang bikin sakit berkali – kali. Yang lain masih banyak kok.

Teman saya ini secara tidak langsung sudah memilih mengutamakan logikanya ketimbang apa yang muncul dari perasaannya. Ya jadi saya katakan saja ke dia, “ Orang – orang yang memilih berpikir dengan logikanya pasti mengesampingkan perasaannya, dan mereka yang memilih hatinya toh akhirnya memilihh merubah cara pandang dan logikanya”

Saya bukan trainer, jadi saya juga ga tahu menahu mengarahkan masalahnya ke tempat yang benar. Apa yang ingin saya katakan pada dia adalah apa yang sebenarnya ingin dia dengar. Ini terbukti dari kata – katanya sejanjutnya.

ya jadi aku harus setuju dengan logika ku, karena yang aku inginkan ada dalam hatiku

okelah mi makasih, ya

 Nah loh, kan langsung setuju dianya. Jadi kesimpulannya adalah, kalo ada yang bilang ke kalian tentang ini, jujur saja susah kalo ga tahu masalah aslinya. Ini juga saya ga yakin kalo yang say saranin ke dia itu bener dan sesuai. Tapi toh dia setuju, karena memang orang – orang seperti ini tidak benar – benar khawatir atau bingung dengan apa yang dia pilih, tapi hanya butuh keyakinan saja. Ya cara terbaik meyakinkan seseorang adalah dengan memandang dari sudut pandang nya juga.


Kalo boleh saya katakan sesuatu buat teman saya, “ mba, apapun yang kamu inginkan tolong jangan sampai hilang. Simpan sajalah sementara. Sekarang mungkin kamu memilih secara logis tapi yakinlah nanti ketika pertimbangan logis sudah tidak memberatkanmu, keinginan itu masih mungkin masih bisa dituruti. Tentunya tanpa harus memilih dan membenturkannya dengan pertimbangan logis.” 

presented To : mb Zulfa Faiqoh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar