eaaaa.....posting cerpen dong. :D
eh tapi ini bukan cerpen karya saya, tapi karya temen saya Ra'ufina. Awalnya si cuma dibikin status, terus katanya juga ga ada draftnya. Plus judulnya juga belum ada, jadi buat mas mba yang punya referensi judul bisa monggo dishare.
Ini dia, cerpennya silahken dinikmati... :)
eh tapi ini bukan cerpen karya saya, tapi karya temen saya Ra'ufina. Awalnya si cuma dibikin status, terus katanya juga ga ada draftnya. Plus judulnya juga belum ada, jadi buat mas mba yang punya referensi judul bisa monggo dishare.
Ini dia, cerpennya silahken dinikmati... :)
*****
"Ini untuk bayar sekolah kau, Nak." Janda itu menyodorkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Dihindarinya tatap mata anaknya. Lalu bergegas pergi. Langkahnya kaku memasuki dapur.
"Ini untuk bayar sekolah kau, Nak." Janda itu menyodorkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Dihindarinya tatap mata anaknya. Lalu bergegas pergi. Langkahnya kaku memasuki dapur.
"Ibu tak ada di kamar semalam." Bocah laki-laki itu berucap pelan, sambil
terus menatap segepok uang yang tak ia sangka akan di tangan.
Ibunya menoleh.
"Ah, iya." Katanya tersenyum. "Semalam ibu pergi ke tempat Mak
Dayah. Butuh dipijit ibumu ini. Sekali-kali." Ia tersenyum lagi.
Menampakkan keriput halus di sekitar matanya.
"Mm.." Janda itu tampak canggung. "Hari ini
ada beras. Ibu sudah nanakkan untukmu. Kau mau lauk apa? Biar ibu
belikan."
Yang ditanya justru terdiam. Tatap matanya enggan beralih. Tapi nyata benar ia
mendengarkan. Dadanya naik turun menahan sesuatu.
"Bayu, Le. Ibu tanya kau." Masih tak ada tanggapan.
"Bayu.."
"Asu! Ibuku dadi lonte!" Bocah itu berteriak tiba-tiba. Uang yg
sedari tadi menjadi fokusnya telah terbanting lunglai di lantai tanah.
Sang ibu tercengang.
"Ngomong opo kowe?"
"Asu kowe, Bu!"
"Bayu!"
Mungkin benar apa kata orang-orang di kampung. Bahwa ibunya
bukan lagi sewujud wanita santun, yg tak pernah keluar rumah kecuali untuk
belanja di warung Mak Jum. Yang tak sudi menerima tamu laki-laki saat suaminya
tengah pergi, sekalipun hanya seorang kadus yg hendak antarkan bantuan beras
dari balai desa. Mungkin benar gunjingan-gunjingan para wanita di bawah pohon
kerasem itu. Ibunya telah menjelma menjadi kelelawar ayu yg menjajakan
kemaluan. Menjadi objek canda rayu laki-laki berhidung belang.
Mungkin benar semua omong kosong itu. Mungkin benar.
***
Larut malam.
Wanita itu gelisah di kamarnya. Batinnya tak tenteram. Ia mengubah posisi
duduknya berkali-kali. Mencoba menahan isak agar tak luntur pulasan bedak. Bayu
sudah tahu, katanya dalam hati. Tapi dari mana dia tahu? Bocah sekecil itu.
Pikirannya bergerak mundur, dan terhenti pada kenangan peristiwa beberapa bulan
yg lalu. Saat ia tengah menjemur kasur di pekarangan, dan Mak Jum lewat di
depan muka.
"Njemur kasur kau, Sri?" Sapanya enteng.
"Njeh, Mak."
Ia menjawab sekedarnya.
"Lama kau tak belanja di warungku." Mak Jum
berjalan memasuki pekarangan. Mendekatinya yg kini sibuk memukulkan rotan
bersulam ke badan kasur.
"Kasihan itu si Bayu kau suruh puasa terus. Bisa kurus dia."
Sri hanya tersenyum simpul.
"Suamimu itu, siapa namanya.."
"Mas Hadi, Mak."
"Ya. Si Hadi itu sudah tak mungkin pulang."
"Mak!" Sri merasa Mak Jum mulai tak sopan.
"Kudengar dia mati terbawa arus sungai."
"Mas Hadi hanya belum ditemukan, Mak. Dia masih hidup."
"Heh, Sri." Mak Jum menepuk pundak wanita muda
itu. "Anakmu masih kecil. SMP saja belum lulus. Jangan kau bebani dia
dengan sifat keras kepalamu itu." Mak Jum mulai memelankan suaranya.
"Aku ndak membebani dia sama sekali."
"Kau ndak kasih dia makan.."
"Aku ngasih dia makan, Mak."
"..kau ndak kasih uang jajan."
Sri terdiam.
"..kau bayar pakai apa keperluan sekolahnya?"
Sri membuang muka, "Nanti kalo ada uang, Mak." Katanya tajam.
"Nanti. Sekalian belanja lagi di warung Mak Jum."
Mak Jum terkekeh.
Paham benar akan watak keras wanita muda di hadapannya.
"Terserah kau saja, Sri. Tapi kalau kau mau kerja, kerjalah sana pada Dhe
Minah. Kaya si Sumi. Banyak uang dia sekarang. Bisa beli sepeda motor."
Mak Jum terus mengoceh sementara langkah kakinya menjauh dari rumah Sri.
Meninggalkan Sri yg kini berdiri diam. Ia tahu betul siapa Dhe Minah. Siapa
Sumi. Dan hubungan keduanya. Ia hanya tak habis pikir bagaimana mungkin Mak Jum
menyuruhnya bekerja pada yg demikian.
Kenangan itu membuyar. Mengembalikan pikiran Sri pada
raganya yg sedari tadi duduk gelisah di pojok ruang. Di depan meja kayu dengan
cermin seadanya menggantung di dinding berpaku. Ia menghela napas. Dirasainya
sesak. Ia tahu sekarang sudah saatnya pergi. Ke tempat yg beberapa bulan lalu
ia herankan.
Sri bangkit, sejenak kemudian membungkuk, memonyongkan bibir di depan cermin
dan menambah tebal polesan lipstik merah hati. Cantik, batinnya.
"Semoga Bayu tidak cukup mampu untuk terjaga sampai sepagi ini."
Sri melangkah keluar kamar. Biasanya ia akan langsung meraih
kunci di samping saklar lampu lalu bergegas keluar rumah dan mengunci pintu.
Tapi kali ini ia terhenti. Menatap lekat tirai kamar Bayu yg usang dan banyak
tambalan di sana-sini. Perlahan, ia mendekat. Membuka sedikit tirainya untuk
memastikan anak semata wayangnya telah pulas. Tak ada pintu kayu, apalagi yg
bergagang logam. Hanya selembar kain selendang yg kemudian diubah fungsi jadi
pembatas antar ruang. Bayu berbaring memunggungi tirai.
Napasnya teratur berirama. Syukurlah, ia nyenyak, pikir Sri.
Dan beberapa detik kemudian pintu depan telah terkunci tanpa timbulkan bunyi.
Bayu membalikkan badan. Matanya merah menahan kantuk. Ia
tahu ibunya sudah berangkat. Ia tahu ibunya berdiri cukup lama di depan
kamarnya.
Dan kini ia bangun. Mengambil sebatang rokok di laci lalu menyalakan
korek.
"Rokok itu mengenyangkan Boi. Tak usah kau makan nasi, sudah penuh isi
perutmu." Ucap seorang kawan sekolahnya tempo hari. Perlahan dihisapnya
rokok itu.
Bayu beranjak. Menghampiri jendela kamar dan membukanya
lebar-lebar.
Empat belas tahun usianya. Dan ia sudah dipaksa mengerti, hal-hal yg tak bisa
ia pahami. Bahwa hidup tak pernah pasti. Tak pernah..
"Dimana kau Pak e?" Bayu bergumam pelan. Bertanya pada udara. Asap
rokoknya bergumul dari rongga mulut. "Dimana?" Suaranya nyaris
tercekat.
Bayu ingat betul kapan terakhir bapaknya di rumah. Kapan terakhir mereka
bercengkrama berdua, membicarakan hal-hal yg hanya dibicarakan oleh dua orang
laki-laki dewasa.
"Wis gedhe kowe, Le." Bapak menepuk-nepuk pundak
Bayu, lalu mencengkeram kedua lengannya, pertanda bangga.
"Soyo ganteng njeh, Pak?" Bayu bertanya.
"Lha ya ganteng. Bapaknya juga ganteng." Keduanya tertawa. Kemudian
terdiam bersamaan. "Ibumu tambah ayu ya, Le." Bapaknya berkata pelan.
Melirik ibu yg tengah sibuk menggoreng kerupuk di pawon.
"Njeh, Pak. Ayu tenan."
"Kowe, Le," Bapak menatap Bayu sekarang, "Harus bisa njaga
ibumu. Bocah lanang. Ojo mung bisone dolanan layangan."
Bayu tertawa, "Siap, Pak!"
"Ingat, laki-laki itu yg dipegang.."
"..ucapannya." Tertawa lagi.
Lalu gambar berganti. Seperti pergerakan tampilan layar pada pemutaran filem.
Menampilkan bapaknya yg berdiri gagah di ambang pintu. Sebuah jeep warna orange
telah terparkir di pekarangan rumah sejak 10 menit sebelum Bayu pulang.
"Panggilan lagi tho, Pak?" Tanyanya sambil berlarian. Bapaknya
tersenyum.
"Ada longsor di Jakarta. Bapak musti bantu-bantu ke sana."
"Aku ikut yo, Pak!"
"Hush! Kowe mau, ibumu diculik juragan genit?"
Bayu buru-buru menggeleng.
"Ndak! Ndak mau. Aku tak ngawal ibu saja. Bapak hati-hati ya di
sana."
"Bapak percaya kowe."
Dan tiga minggu kemudian kabar itu datang. Ibunya tak tahu. Dan sepertinya
bapak memang tak menginginkannya tahu.
Bayu kembali menghisap rokoknya. Sunyi. Dialog-dialog itu terngiang kembali.
"Kowe, Le. Harus bisa njaga ibumu."
"Laki-laki itu yg dipegang ucapannya."
"Kowe mau, ibumu diculik juragan genit?"
"Bapak percaya kowe."
Aaaargh!
Diterjangnya dinding. Dipukulkannya kepalan tangan.
Lalu tersungkur di tanah. Menangis.
Awalnya terisak. Tapi kemudian meraung sejadi-jadinya.
"Ngapurane, Pak! Ngapurane."
Bayu berdiri. Gontai ia melangkah keluar kamar. Agak berlari menghambur ke
pintu depan. Greg! Pintunya terkunci dari luar.
"Asuuu! Asu!"
Dibantingnya rokok. Diinjaknya dengan kaki telanjang hingga hancur.
"Bayu rak biso njagani ibu, Pak."
***
"Kau merokok, Nak? Bayu?" Tanya ibunya saat ia
melihat sisa abu di dekat pintu.
Bayu tak menjawab.
"Sejak kapan?"
Lagi-lagi tak menjawab.
"Bayu, ibu tanya.."
"Sejak kowe dadi lonte!" Potong Bayu keras.
Dan tamparan itu mendarat keras di pipi kiri Bayu. Keduanya berpandangan
singkat. Lalu ibunya menundukkan kepala, dan Bayu langsung membuang muka.
"Ibu bukan seperti yg kamu kira, Le." Lirih ibunya berkata.
"Terus opo?!"
"Kau ndak bakal ngerti."
"Karena aku masih SMP?! Kowe selalu menganggapku anak kecil. Pak e tidak
begitu!"
"Ibu harus kerja, Le."
"Jual kerupuk kan bisa."
"Uangnya tak seberapa."
"Memang mau buat apa saja?"
"Banyak."
Bayu beranjak dari duduknya. Melenggang menuju pintu.
"Mau kemana kau?"
"Pergi. Aku ndak mau tinggal sama lonte."
"Bayu!"
Bayu tak mengubris. Langkahnya pelan.
"Setidaknya ibu tidak jual diri!" Seru ibunya tertahan.
Bayu menghentikan langkahnya, menoleh.
"Apa kata bapak kalo pulang nanti."
"Bapakmu sudah mati. Ibu tahu itu. Ibu hanya berpura-pura menganggapnya
masih hidup. Itu membuat ibu lebih baik." Ibunya mulai terisak.
Bayu terdiam.
Dia merasakan getir dalam suara ibunya. Dan ia mulai iba.
"Sakarepmu, bu."
Bayu masih terlalu gengsi untuk memaafkan ibunya begitu saja.
"Bayu, kau bakal punya adik."
Angin seperti berhenti menari. Bayu membisu. Dan dirasainya dadanya sesak.
"Kampret! Hasil nglonte itu?" Tanyanya sinis.
"Bukan, Le. Ini anak bapakmu."
"Aku ndak percaya! Ibu lonte!"
"Sini pegang! Pegang!" Ibu menarik tangan Bayu untuk memegang
perutnya. Bayu mengelak. Tapi tenaga ibu lebih kuat. Bayu menempelkan telapak
tangannya ke perut ibu.
"Ini sudah lima bulan. Coba kau hitung-hitung lagi
kapan bapakmu pergi dan kapan ibumu ini mulai nglonte, kalau
kau memang bersikeras bahwa ibumu lonte." Ibu menangis. "Melahirkan
butuh uang, Bayu. Setelah lahir butuh sandang, butuh pangan. Rumah ini pun
belum lunas terbayar. Sekolahmu, beras kita, semua perlu uang."
Pertahanan Bayu runtuh. Air menetes dari pangkal matanya. Dipeluknya ibu. Ia
seakan kembali menjadi bocah laki-laki yg ikut menangis saat ibunya menangis.
"Apa yg ibu kerjakan di tempat itu?" Bayu memberanikan diri bertanya.
"Menemani orang-orang yg sedang karaoke." Jawab
ibu pelan, nyaris tak terdengar. "Mereka kasih ibu uang karena merasa
ditemani. Ibu tahu kau belum mengerti benar. Tapi percayalah, Nak, Le. Ibu
tidak hianati bapakmu."
Jantung Bayu berdegup kencang. Seperti merosot jatuh sampai ke kaki. Ada lega
yg tak terpeta saat mendengar kalimat terakhir ibunya.
"Tapi apa kata orang-orang, Bu. Bayu tidak mau Ibu dipandang buruk."
"Biarlah nilai kebenaran itu menjadi urusan kita dengan Tuhan, Le."
"Orang-orang hanya tahu menuduh, menghakimi,
padahal Yang Hakim itu Tuhan."
"Bayu bantu kerja ya, Bu."
"Jangan!"
"Kalau begitu ngamen-ngamen dulu. Setelah ujian nanti Bayu cari kerja. SMA
urusan belakangan, Bu. Lanjut sekolah itu bisa kapan saja. Adik Bayu harus
lahir selamat."
Tangis ibunya meledak. Dan Bayu memeluknya semakin erat. Ia belajar sesuatu
pagi ini. Bahwa apa yg dimaksud bapaknya dengan 'menjaga ibu' bukan hanya
tentang mengawalnya bepergian, atau menemaninya di rumah.
Tapi juga tentang mendengar kesah dari peluh yg menetes
setiap geraknya.
"Selamat pagi, Pak e. Ibu aman kok sama Bayu."
oke
BalasHapus